Walk The Talk

I should probably read my previous post and get some sleep now.
Oh well… Good night, night owls.

Xo.

Prioritize and Delegate

“Sleep later because we have a life to live” is probably one of my all time favorite quotes – especially when I was in college. Dulu tiap kali inget quote ini bawaannya jadi semangat buat kerja habis-habisan mengejar sesuatu. Buat nulis. Buat nabung lebih banyak. Basically quote penyemangat deh.

Tapi akhir-akhir ini sering terpikir kalo quote ini sedikit ridiculous. Pertama, if we don’t sleep, we don’t live. Okay, I took it too literally, tapi bener deh istirahat itu seharusnya prioritas. Take it from a 29 year old like yours truly who has gone weeks being sleep deprived. I literally cannot function without the boost of coffee and sure I love coffee, but I don’t think it’s okay to keep relying on one particular substance because that’s basically one way road to addiction, right..

But frankly to sleep more is simply not an option. Well at least for now. My wedding is weeks away and for a control freak who works 8 to 5, Monday to Saturday, with the addition of 4 hours commuting back and forth from home to work, sleep is a rare commodity these days..

I’m not complaining (well, I am, a little bit), but I’ve been thinking about this for a while now and I came to a decision that I have to break up with my favorite quote. I just have to. And that leads me to now, needing a new quote. As a true narcissistic, I’m gonna make my own. Here goes: “prioritize and delegate”. Okay, apparently I suck and people won’t start quoting me anytime soon, but what I’m trying to say is that time is limited and we cannot keep trying to outrun it. The best thing we can do is to have a list of priority, stick with it, delegate the rest that we cannot do to others, and not fuss so much about how they do it.

It may sound simple, but I know firsthand that it is not the easiest thing to do. Especially for those who have trust issues yang selalu berpikir bahwa tidak ada orang lain yang dapat menyelesaikan sebuah pekerjaan sebaik dirinya sendiri (guilty as charged – angkat tangan, nunjuk ke dada).

But seriously, apa sih yang kita cari di hidup ini? Uang? Seberapa banyak? Yang cukup? Seberapa banyak itu yang cukup?
Status? Seberapa tinggi? Manager? Yakin? Di atas manager masih ada General Manager loh.. Pertanyaan-pertanyaan ini ga bakal ada habisnya. Tapi pertanyaan yang seharusnya maha penting adalah: is it all worth it? Is it worth the time you spend away from your loved ones? Is it worth the important dates you miss in exchange for company’s business dinners? Is it worth all the holidays you spend on your computers instead of going somewhere with your kids? Is it all worth it?

I say no. Because honey, trust me, all the status and money in the world will not save you when you are strangers with your family. When you stop having meaningful conversations with your husband/wife. When your kids don’t even bother to go to you with their happy news. Or when your health starts failing…

Think about it now…

Xo,
Pauline

Hello from Solo

Writers would go to coffee shop and write. Or at least that’s how I see it in the movies. Of course as someone who takes movies seriously, I had to go and try. So here I am, sitting in a very uncomfortabe seat at Starbucks, worrying about prepositions, wrestling my iPad’s autocorrect trying to write one simple post for my new blog.

I hate it.

I would rather write in my comfy sweatpants, in my bed, with my trusty notebook.

So I’m signing off. I have some shopping to do.

Xoxo,

P

Make You Feel My Love

Saya sedang sangat suka dengan lagu lawas yang dinyanyikan lagi oleh Adele. Make You Feel My Love judulnya. Enak banget deh. Akhir-akhir ini lagu itu selalu terputar di media player laptop saya, di iTunes komputer kantor saya. On endless repeat. Maaf, tapi saya memang gampang sekali terobsesi dengan sesuatu. Saya seorang Gemini sejati.

Bukan hanya enak didengar (secara memang suara Adele bagus banget kan!), lagu ini juga berlirik indah. Ceritanya tentang janji-janji manis. Tentang kesanggupan seseorang untuk melakukan apa saja demi orang tercinta. Tentang indahnya perasaan jatuh cinta.

Walaupun sangat suka dengan rangkaian kata-kata indah, kagum dengan penulis-penulisnya, bahkan pernah beberapa kali mencoba menulis versi saya sendiri, jujur saja saya bukan orang romantis. Walaupun sangat cengeng dan cinta dengan sappy songs dan film drama komedi romantis, sehari-harinya saya jauh dari hal-hal seputar itu. Tanya saja pacar saya. Dia akan bercerita panjang lebar tentang bagaimana payahnya saya dalam soal romatis-romantisan. Again, saya Gemini sejati. Orang Gemini itu lucu. Bukan romantis. Jadi ya bukan salah saya kalau saya payah sekali di bidang satu ini.

Jika ditanya apakah hal paling romantis yang pernah saya lakukan buat pacar saya, err… I would say, saya pernah membela dia habis-habisan di depan mama saya. Right, saya punya definisi sendiri  yang agak sedikit aneh tentang romantisme. Lupakan saja sebuket bunga mawar, candle light dinner, boneka  teddy bear di hari Valentine. Buat saya, hal-hal itu tidak penting. Bukan berarti saya mencerca orang-orang yang merayakan Valentine. Bukan begitu. Sahabat saya sudah menikah dengan mantan pacarnya – mereka sudah bertahun-tahun bersama-sama (kata-kata ini saya pilih karena saya terlalu malu untuk bertanya tepatnya berapa lama mereka sudah bersama; terlalu pelupa; dan terlalu malas untuk berhitung) tapi sampai sekarang mereka masih terlihat sangat romantis, masih merayakan setiap hari Valentine dengan candle light dinner dan saling bertukar kado (sekarang sih lebih tepatnya mereka memilih kadonya sendiri-sendiri hehe). Saya bangga sekali terhadap mereka.

Tiap-tiap orang mempunyai definisi berbeda mengenai romantisme. Dan buat saya, hal ini adalah hanya pelengkap semata dalam sebuah hubungan antara pria dan wanita dewasa. Bukan ini esensinya. Buat saya, yang penting adalah niat dari setiap perbuatan. Sebuah hubungan tidak akan berjalan mulus terus, aman damai tanpa ada permasalahan (entah kecil atau besar). Dan saya percaya bahwa pemecahan dari tiap masalah adalah: niat yang baik.

Jujur saja, saya termasuk orang yang sangat gampang sekali bosan. Ini adalah tantangan terbesar saya dalam situasi apapun. Jika boleh mencari kambing hitamnya, saya akan menyalahkan horoscope saya. Yak, selain awesome in general (hehe), trait lain yang sangat menonjol dari orang Gemini adalah gampang bosan (do I see you manggut-manggut there, Ko Kris?). Jadi jika ditanya apa saya takut bosan dengan pasangan ketika sudah menikah nanti. Hell yeah, I’m worried! Sekarang saja saya yang privileged dengan long-distance relationship (yang seharusnya tidak memungkinkan saya untuk bosan), bisa dengan canggihnya menemukan kebosanan lain: bosan berjauh-jauhan…

Tapi seperti yang sudah saya tulis tadi, saya percaya bahwa pemecahan dari tiap masalah adalah niat yang baik. Dengan niat baik kita akan punya alasan untuk memperjuangkan sesuatu. Buat saya pribadi, dengan niat baik I have the reason to fight for my relationship: to be the best version of myself, to stay in it no matter how boring it gets (because let’s face it, a relationship does get boring after a certain amount of time, right?).

Percaya deh, kuncinya cuma niat baik, kok.

Setiap orang punya niatnya masing-masing dalam menjalani sebuah hubungan dengan orang lain. Apakah itu untuk mencari pendamping hidup, mencari teman untuk diajak berbagi cerita, atau yang cukup ekstrim: mencari orang untuk mengantar kemana-mana (entah karena tidak bisa / biasa sendiri atau tidak bisa menyetir). Now let’s ponder for a moment, apa sih sebenarnya niatan kamu?

Ngoro, 23 Juni 2011

Thank You, Lagu Keroncong

Hari Jumat lalu, dalam perjalanan menuju Jawa Tengah, saya mempelajari dua hal baru tentang diri saya. Yang pertama adalah bahwa ternyata tidak seperti yang selama ini saya gadang-gadang, saya tidak dapat menikmati semua jenis lagu (yak, lagu keroncong yang diputar terus menerus dapat membuat saya sakit kepala berkepanjangan!). Dan yang kedua adalah bahwa buat saya menulis dapat menyembuhkan sakit kepala itu (walaupun itu berarti sakitnya berpindah ke leher belakang – sumpah, susah nulis di laptop sambil berusaha menjaga keseimbangan di dalam mobil ngebut yang berguncang-guncang).

Hampir separuh dari lima jam perjalanan yang saya tempuh dari Surabaya – Sragen, saya (terpaksa) mendengarkan lagu keroncong. Why? Well, menurut saya sangat tidak sopan jika kita memasang iPod ketika menumpang mobil seseorang dan berkendara hanya berdua saja (hey, kakak pacar bukan sopir!). Jadi, there I was, duduk diam melihat ke jalan, berusaha untuk tidak tertidur (again, menurut saya selain memasang iPod, tertidur adalah ketidak-sopanan nomer dua), membaca buku, berusaha menyimak lirik lagu-lagu yang diputar, dan tertawa-tertawa sendiri dalam hati karena sebagian besar lirik lagu keroncong amat sangat absurd (salah satu contohnya adalah: “menghijau daun warna warni, engkau kutanam mengandung hati.” *Heh?!*).

Pada satu titik, saya meng-update status:  “Sumpah, klo lagu2 keroncong ini gak brenti2 juga, gue bisa gila!”. Ketika menekan tombol “tweet”, saya berpikir bahwa saya harus melakukan sesuatu untuk mengalihkan pikiran saya dari lirik-lirik tidak masuk akal itu atau beneran, saya bisa gila. Hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah di laptop saya ada banyak lagu-lagu keren. Ada satu album Adele yang menggoda untuk diputar. Tapi kuasa pemilihan lagu di dalam mobil adalah milik orang yang berada di belakang setir (and yes, I was keeping tabs on hal-hal-tidak-sopan-yang-harus-dihindari-ketika-kita-numpang!) jadi saya urungkan niat saya.

Akhirnya untuk menghilangkan bosan, saya membaca kembali tulisan-tulisan lama saya dan ketika sedang melihat-lihat deretan nama file, saya menemukan satu artikel yang belum sempat terselesaikan. Marc Jacobs judulnya. Sebenarnya saya mulai menulis artikel itu beberapa hari yang lalu tapi susah sekali menyelesaikannya. Berkali-kali saya terhenti di satu baris. Memandangi monitor sambil mengumpat dalam hati. Menggerutu dan berhenti untuk baca timeline Twitter (yang pada saat itu jauh lebih menarik daripada artikel saya sendiri). Dan akhirnya sebagai seorang Gemini yang gampang sekali bosan dan distracted oleh hal-hal baru, saya tergoda menulis artikel lain.

Akhirnya entah karena bosan atau karena sudah hampir gila karena siksaan lagu keroncong (atau amat mungkin gabungan dari keduanya), saya menatang diri saya untuk menyelesaikan artikel dead-end itu sebelum saya sampai di Sragen. Untuk dapat lebih memahami anehnya keputusan saya ini, ijinkan saya untuk bercerita sedikit tentang situasi saat itu. Mobil yang saya tumpangi adalah Toyota Avanza. Saya duduk di depan, shotgun, strapped by the seatbelt, dan memangku handbag saya (yang pada akhirnya menjadi tumpuan laptop – sempat terbersit bahwa untung saya bukan pria – kan katanya memangku laptop dapat berakibat buruk bagi kualitas sperma pria!). Untuk mengetik di keyboard, saya harus menekuk tangan saya sampai bentuknya sangat aneh, seperti tusuk gigi yang dibengkokkan. Intinya, saat itu susah sekali untuk mengetik, let alone menyelesaikan sebuah artikel (let alone sebuah artikel dead-end).

Mungkin peribahasa kuno “bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian” benar adanya. Setelah susah bertubi-tubi, akhirnya artikel jahanam itu selesai juga ketika mobil yang saya tumpangi memasuki Kota Ngawi (kota terakhir sebelum memasuki Sragen! Yay, saya berhasil!). Kalau dipikir-pikir, memang banyak hal yang harus kita lewati untuk sampai pada suatu titik dimana kita dapat merasa puas akan suatu pencapaian. Dan bisa dibilang bahwa orang paling beruntung adalah orang-orang yang tidak berhenti menantang dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik. Untuk menjadi lebih dari sebelumnya.

Saya selalu merasa bahwa orang-orang yang menyerah kalah pada halangan pertama yang menghadang adalah orang-orang yang belum tahu apa sebenarnya arti dari berjuang, dan bagaimana kerennya memandang refleksi diri sendiri di kaca, nyengir lebar sambil mengangkat-angkat alis dan berkata “hey you, we did it!”. Bukannya saya berkata bahwa saya tidak pernah menyerah, tapi at least saya bisa bilang bahwa saya selalu berusaha mencoba lebih dulu sampai pada batas kemampuan saya.

Berusaha itu menyenangkan sekali loh. Hampir sama menyenangkannya bagi saya bila dibandingkan dengan menulis. Atau makan enak. Atau tidur seharian di Hari Sabtu setelah paginya dihajar oleh instruktur senam saya. Bukan berarti saya tidak bersungut-sungut kalau bertemu kesulitan (remember, saya mudah sekali marah), tapi saya benar-benar kecanduan memutar otak untuk menyiasati situasi sulit itu. Ada rasa kebanggaan tersendiri (yang menurut saya rasanya sedikit lebih awesome dari perasaan di-follow balik oleh Indra Herlambang!) jika apa yang saya rencanakan berjalan sesuai dengan semua hal yang sudah saya rencanakan. Perasaan itu addictive! Buat mereka yang gak percaya, coba saja set your mind on a goal and work your ass off sampai kamu dapat apa yang kamu mau itu. You’ll then understand what I’m talking about!  Berani coba?

Ngoro, 25 April 2011

Btw, speaking of hal-hal-tidak-sopan-yang-harus-dihindari-ketika-kita-numpang, akhirnya saya melanggar ketidak-sopanan nomer dua pada perjalanan pulang ke Surabaya. Saya hanya bisa berharap (for dear life) bahwa saya tidak menggerutu atau mendengkur ketika ketiduran itu (kalo iya, sorry ya Ko Andy hehehe)…

Kartu Kreditku

Saya sangat tidak mengerti dengan cara pikir kebanyakan orang Indonesia. Pada dasarnya saat menulis ini saya sedang sangat emosi dengan cara kerja tiga orang customer service dari Bank Mega. Apakah kejadian ini bisa saya pakai untuk menyama-ratakan sifat kebanyakan orang Indonesia, well, saya tidak tahu. Tapi menurut hemat saya (yang terbatas ini), hal itu sah-sah saja. Saya tidak akan berpanjang-panjang menceritakan kejadian lengkapnya (karena resikonya adalah saya akan kembali marah-marah dan mulai memaki-maki, jadi lebih baik tidak).

Singkat cerita, surat tagihan saya bulan lalu tidak terkirim. Saat itu tanggal 28 Maret 2011, sekitar jam 6 sore, saya sedang bengong-bengong sendiri. Tiba-tiba saya tersadar bahwa saya belum melakukan pembayaran kartu kredit bulan itu. Saya sempat tercenung sebentar. Mengerutkan satu alis. Kemudian saya loncat dari ranjang dan meraih Blackberry saya untuk melihat tanggal berapa hari itu. 28 Maret 2011. Mampus saya, begitu pemikiran yang lewat di otak saya pada saat itu.

Bagaimana tidak, deadline pembayaran kartu kredit saya adalah setiap tanggal 28 pada setiap bulannya. Jadi saya terlambat! Saya akan didenda! Padahal berdasarkan hitung-hitungan singkat di otak saya yang membenci angka ini, tagihan saya di bulan Maret ini tidak sedikit. Mampus saya.

Buru-buru saya menelpon customer service Bank Mega untuk menanyakan duduk permasalahannya. Perlu saya jelaskan sedikit di sini bahwa saya adalah orang yang sangat pendek sumbunya. Alias gampang sekali marah. Tapi pada hari itu saya berpikir, coba kali ini kita selesaikan dengan cara baik-baik (sebenarnya penyebab utamanya adalah kepelitan saya pada pemakaian pulsa HP. Melakukan panggilan ke call center itu kan gak gratis, jd buat apa berlama-lama untuk marah-marah, begitu pikir saya).

Setelah beberapa saat membuang pulsa, kesimpulannya adalah tagihan saya memang belum terkirim. Sialan. Saya harus direpotkan dengan membayar tagihan tersebut lewat teller bank, which means saya harus meminta tolong seseorang untuk melakukan hal tersebut (kalau anda bekerja di luar kota, berpacaran jarak jauh, dan hanya mempunyai dua adik yang juga sudah bekerja penuh waktu, anda akan bisa memahami perasaan dongkol saya saat itu).

Tapi yang membuat saya sedikit lega adalah dua janji dari customer service itu (kalau tidak salah namanya Mas Adi. Saya bohong. Saya benar-benar sudah lupa siapa namanya), dia bilang bahwa saya tidak akan dikenai denda (kalau saya membayar tagihan lewat teller) dan surat tagihan saya yang tidak jelas rimbanya tersebut akan ditelusuri keberadaannya dan dikirimkan ulang ke saya dalam jangka waktu tujuh hari kerja.

Besoknya tagihan terbayar lunas (thanks to a very good cousin), dan karena kebiasaan pelupa saya yang entah baik atau buruk ini, tidak lama kemudian saya sudah melupakan kejadian menyebalkan ini.

Minggu lalu, ketika sedang mengiris-iris sayuran kembali saya teringat dengan surat tagihan saya yang sedang missing in action ini (serius, saya memang suka terkaget-kaget sendiri dengan apa yang saya tiba-tiba ingat pada saat yang paling tidak masuk akal). Loh, ini tanggal berapa ya?! Kok aku belum juga terima tagihan bulan lalu?! Kembali – dengan sedikit dongkol (ingat, saya sudah mengingatkan kalian kalau saya orangnya sangat mudah marah) – saya menelpon customer service Bank Mega. Lagi-lagi seorang laki-laki yang menjawab (mari kita awur namanya: Mas Hadi). Setelah berpanjang-panjang melakukan pengecekan data customer, Mas Hadi berkesimpulan bahwa tagihan saya belum terkirim. Entah kenapa.

Sabar, Pauline… Sabar… Kembali dengan sopan saya meminta dia untuk mengirimkan ulang surat tagihan bulan Maret saya dan saya kembali dijanjikan bahwa surat tersebut akan muncul dalam tujuh hari kerja.

Hari ini hari ke-tujuh.

Blackberry saya berbunyi. Ada panggilan masuk dari pengelola apartment saya. Mbak yang baik itu memberitahukan bahwa auto-debet tagihan air, listrik, dan service charge unit saya bulan ini di-declined. Menurut Bank Mega, penyebabnya adalah insufficient credit amount. Damn, saya malu. Secara baru kali ini transaksi saya ditolak dengan alasan memalukan yang mengindikasikan bahwa saya adalah orang yang hobi berhutang. Dan telat bayar.

Terpaksa saya harus kembali menelpon tempat kerja Mas Adi dan Mas Hadi. Tapi kali ini Mbak Eva yang mengangkat (sumpah, kali ini namanya benar Mbak Eva. Ini bukan karangan!). Saya menanyakan mengenai transaksi saya yang ditolak tersebut. Tidak seperti dua Mas-Mas pendahulunya, Mbak Eva ini kurang beruntung.  Hari ini saya PMS. Yak, seperti yang sudah bisa ditebak, ketika saya PMS, saya mempunyai ekspektasi yang berlebihan terhadap orang lain. Dan kalau mereka benar-benar kurang beruntung (atau dalam hal ini berbuat hal-hal bodoh seperti apa yang dilakukan oleh Mbak Eva tadi siang), mereka akan berhadapan dengan saya yang sangat pandai mengeluarkan kata-kata yang terangkai sedemikian rupa dengan satu tujuan: membuat kuping pendengarnya merah, dan mulutnya terdiam kalah.

Saya tidak akan membahas mengenai benar atau salahnya perbuatan saya (hey, on my defense, this is my writing piece!). Tapi yang akan saya bahas adalah bagaimana setelah nada suara saya meninggi, pemilihan kata-kata saya mulai sangat pedas, dan kecepatan berbicara saya mulai melebihi ke-lebay-an saya, Mbak Eva mulai bekerja dengan lebih baik.

So,it’s either how she works well under pressure, or my attitude got her attention. Pilihan saya jatuh ke opsi nomer dua.

Pilihan itu bukan karena saya adalah orang yang suka ber-negative thinking terhadap orang lain (trust me, my glass is always half-full!), tapi setelah bekerja selama hampir lima tahun di perusahaan manufaktur paper shopping bags dan bergelut dengan bermacam-macam tipe kolega, saya menyadari bahwa pada saat-saat tertentu, nada suara tinggi membawa lebih banyak hasil nyata ketimbang nada suara manis. Bener deh, saya gak bohong. Kadang-kadang rekan-rekan saya perlu sedikit dikerasi. Semacam anak kecil yang tidak akan mengerjakan PR-nya kalau tidak diancam orang tuanya, mereka tidak akan bekerja dengan serius kalau kita-kita yang memberi instruksi menyampaikan instruksi tersebut tanpa penekanan. Dan jawaban “oh iya! Aku lupa, Lin!” adalah jawaban standar yang sudah sangat saya hapal di luar kepala.

Saya bukan orang yang menikmati sesi marah-marah itu. Jujur saya, setelah atau ketika saya marah-marah biasanya tangan dan rahang saya gemetaran. Sangat tidak kece. Tetapi saya adalah orang yang percaya bahwa pada saat-saat tertentu marah-marah dengan dosis terkontrol adalah perlu. Kesabaran ada batasnya. Kita harus punya sabar tetapi tahu batasnya. Terus terang saya tidak rela berjerawat atau harus minum obat tidur karena kebodohan orang lain (yes,I love my sanity, sue me!).

Ngoro, 18 April 2011

Tren Masa Kini

Setelah beberapa bulan berkenalan dengan Twitter, saya menjadi begitu terpesona dengan penemuan satu ini. Betapa tidak, dengan Twitter seseorang dimungkinkan untuk secara langsung berhubungan dengan idolanya. Tentu saja bukan hanya ini kegunaan Twitter, tetapi saya yang pada dasarnya sangat kepo, menjadi terobsesi khususnya karena hal ini. Sering sekali saya berkutat dengan Blackberry dan berlama-lama membaca timeline yang dipenuhi dengan gosip, fakta terkini, ramalan bintang, dan ocehan orang-orang yang (menurut saya) juga jatuh cinta dengan Twitter.

Dari sekian banyak orang yang saya follow, ada satu orang yang menurut saya istimewa. Laki-laki berkaca-mata, berinisial IH. Sangat cerdas. Sangat lucu. Kadang-kadang absurd tapi most of the times ocehannya juara! Sebagai seseorang yang sangat mudah terobsesi, saya membaca timeline-nya (rekor saya adalah sampai pada bulan Juli 2010. Waktu itu Blackberry saya menolak membuka timeline-nya lebih mundur lagi, entah kenapa), membaca bukunya, mengomentari ocehannya, di follow balik (yep difollow balik beneran!), dan beberapa kali berkirim direct message (DM) dengannya.

Karena salah satu profesinya adalah menjadi presenter di sebuah acara infotainment, sebagai penguntit (stalker Bahasa Indonesianya penguntit, bener kan?) yang konsisten, saya berusaha menonton acara ini juga. Karena jam tayangnya sangat tidak masuk akal untuk ditonton orang-orang yang tidak menganggur, saya sering kali lari ke kamar saya di lantai dua kantor ketika jam makan siang tiba untuk mencuri-curi barang beberapa menit untuk melihat kelucuannya.

Sabtu lalu ketika sedang dengan setengah hati menonton infotainment tersebut (karena salah satu presenternya bukan IH), saya melihat berita putusnya Ayu Dewi dengan Zumi Zola. Jujur saja saya biasanya tidak peduli-peduli amat dengan gosip atau apapun itu, tapi kali ini cerita putusnya mereka menarik perhatian saya karena satu kalimat singkat: “diputusin lewat sms, bo!”

Saya tidak menulis ini karena saya juga pernah mengalami hal yang sama (yea, my ex was kind of a jerk). Hubungan kami waktu itu hanya berjalan beberapa bulan dan bukannya tahunan seperti Ayu dan Zumi. Saya bahkan lebih merasa lega daripada sedih pada saat itu. Jadi saya tidak bisa berkata bahwa saya memahami perasaan Ayu. Tapi yang membuat saya kaget bukan main adalah bahwa kejadian itu persis sama dengan kejadian yang menimpa salah satu teman saya yang terjadi kira-kira setengah tahun lalu. Persis sama! Dia diputuskan oleh tunangannya, kurang lebih sebulan dari tanggal pernikahan yang sudah disepakati bersama, lewat sms. Persis. Sama persis.

Ketika otak saya mulai menyumpahi Zumi Zola, ada satu pemikiran yang muncul: apakah sudah sebegitu pengecutnya orang-orang jaman sekarang sampai-sampai mereka menggunakan cara lain (yang menurut saya sangat tidak sopan) untuk melakukan hal yang seharusnya dilakukan sembari bertatap muka? Bukannya dari kecil kita dididik untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab? Mana tanggung jawabnya kalau kejadiannya seperti ini?

Saya jadi teringat dengan salah satu rekan kerja saya yang juga mengalami hal yang sama. Tapi dia prianya. Dan dia yang memutuskan hubungan dengan mantannya lewat sms. Melihat caranya bekerja, saya sadar bahwa benar-benar ada hubungan nyata antara sifat pengecut dengan cara bekerja, cara membawa diri, dan cara berinteraksi dengan orang lain. Beruntunglah Ayu Dewi karena dia tidak jadi menikah dengan pria pengecut. Serius ini. Dia beruntung karena dia tahu sekarang. Saya memang tidak tahu dan tidak boleh sok tahu mengenai apa penyebab putusnya hubungan mereka. Mungkin penyebabnya kompleks dan tidak melulu salah Zumi Zola. Yang saya permasalahkan di sini adalah bagaimana caranya lari dari tanggung jawab, mencari jalan keluar mudah untuk kabur.

Oke, harus saya akui. Saya tidak membenci apa yang dilakukan Zumi Zola tanpa alasan. Papa saya juga kabur. Bukannya memberi contoh bagaimana cara bertanggung jawab, orang dewasa yang mengajari saya tentang ini malah berubah menjadi pengecut dan kabur ketika keadaan menjadi terlalu sulit untuk diatasi. Saya harus memperjelas sesuatu di sini: saya tidak membenci papa saya. Saya tidak akan pernah membenci dia. Yang saya benci adalah keputusan-keputusan bodoh yang dia buat dan bagaimana dia tidak bisa mengumpulkan keberanian untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya.

Seperti Zumi dan Ayu, saya juga tidak tahu, tidak mau tahu, dan tidak akan menebak-nebak apa yang menjadi akar permasalahan dari keretakan hubungan kedua orang tua saya. Tapi saya menjadi berpikir bahwa mencari jalan keluar yang mudah sudah menjadi tren masa kini. Lebih mudah memang mengetik pesan singkat di telepon genggam dan memencet tombol send daripada menghadapi seseorang yang menangis di depan mata. Lebih mudah memang untuk bercerai daripada duduk bedua dan mencoba memperbaiki sebuah pernikahan yang sudah cacat menahun. Memang lebih mudah. Tapi apakah itu benar? Sejak kapan kita menjadi manusia-manusia tidak peduli terhadap apa yang benar dan salah?

Saya memang belum menikah. Belum juga bertunangan. Mungkin saya tidak tahu sebagainmana kompleksnya hubungan antara pria dan wanita ketika memasuki tahapan-tahapan itu. Tapi saya tahu pasti bahwa bagaimanapun kompleksnya sebuat masalah, menjadi pengecut dan lari adalah sebuah keputusan salah. Salah dan bodoh. Kita mempunyai seumur hidup untuk membuat banyak pilihan. Salah atau benar, pilihan-pilihan itu yang akan membentuk siapa kita. Pilihan-pilihan itu yang akan kita ajarkan kepada anak cucu kita nantinya. Pilihan-pilihan itu yang akan menentukan apakah orang-orang yang kita sayangi dapat dengan bangga memandang kita.

Kalau boleh jujur, saya pernah bangga terhadap papa saya. Pada saat saya masih lebih muda, dia adalah pahlawan saya. Papa saya ganteng sekali, pintar, very charming, dan lucu. Dia juga tidak pernah lupa mengambil rapor saya ketika kenaikan kelas. Dia yang selalu menggambar buat saya karena kemampuan seni lukis saya jauh dibawah rata-rata. Dia juga yang menemani saya bersedih ketika saya putus dari pacar pertama saya. Mungkin tidak adil untuk merubah cara saya memandang dia sekarang, tapi hidup memang tidak adil. Saya sangat menyayangi papa saya. Mengingat masa lalu masih sering membuat saya menangis. Terharu. Tetapi semuanya sudah begitu berbeda sekarang.

Saya harap saya akan selalu mengingat hari ini, tulisan ini, dan dari sekian banyak pilihan dan keputusan-keputusan bodoh yang pernah dan akan saya buat, saya harap saya tidak akan berubah menjadi seorang pengecut yang kalah oleh tantangan hidup. Saya tidak ingin anak saya nantinya memandang saya dengan berbeda, seperti bedanya cara saya memandang papa saya sekarang.

Ngoro, 18 April 2011

PS: kalau masih ada yang belum tahu siapa itu IH, coba cari buku kuning dengan tulisan warna merah dengan foto cowo bergaya seperti ayam di toko buku. Dia yang menulis buku brilian itu. Dia juga yang membuat saya kembali menulis.